JURNAL FORMULASI EMULSI PDF

Oleh cinta jurnal Diposting pada 19 Agustus …Apa sih yang disebut dengan jurnal tentang metode penelitian? Pada jurnal penelitian yang satu ini metode penelitian menjadi bagian utama yang dibahas olehnya. Pada dasarnya metode penelitian itu sendiri… Oleh cinta jurnal Diposting pada 18 Agustus …Penjelasan singkat dari jurnal tentang metodologi penelitian Jurnal tentang metodologi sudah pasti berisi penjelasan dari metodologi itu sendiri. Pada dasarnya metodologi penelitian dikenal sebagai cara yang digunakan untuk mengetahui… Oleh cinta jurnal Diposting pada 17 Agustus …operasional JURNAL PEMUPUKAN pemupukan pdf jurnal sinta tentang penanaman kedelai 2 contoh jurnal penelitian ekologi lahan basah yang sudah terindeks nasional artikel tentnag bahan organik contoh jural tentang cabai e… Oleh cinta jurnal Diposting pada 13 Agustus …Kumpulan Jurnal Manajemen Keuangan Gratis Penelitian itu tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan.

Author:Migor Shaktizil
Country:Mauritius
Language:English (Spanish)
Genre:Music
Published (Last):21 June 2012
Pages:170
PDF File Size:17.49 Mb
ePub File Size:10.86 Mb
ISBN:558-4-18857-825-3
Downloads:32756
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Voodookasa



Sistem ini dibuat stabil dengan bantuan suatu zat pengemulsi atau emulgator Martin, Pada emulsi farmasetik, fasa yang digunakan biasanya air dan fasa yang lainnya adalah minyak, lemak, atau zat-zat seperti lilin Lund, Pembuatan emulsi ganda ini dapat dilakukan dengan tujuan untuk memperpanjang kerja obat, untuk makanan, dan untuk kosmetik. Emulsi memiliki viskositas yang bervariasi dari cairan hingga semi solida. Secara umum, istilah emulsi lebih dikenal sebagai sediaan cair yang ditujukan untuk pemberian oral.

Emulsi yang ditujukan untuk penggunaan eksternal biasanya lebih dikenal dengan nama krim, losion, atau obat gosok. Hal ini disebabkan karena gaya 2 3 kohesi antara molekul-molekul dari tiap cairan yang memisah lebih besar daripada gaya adhesi antara kedua cairan Martin, Proses pengadukan akan menyebabkan suatu fasa terdispersi dalam fasa yang lain dan akan memperluas permukaan globul sehingga energi bebasnya semakin besar.

Fenomena inilah yang menyebabkan sistem ini tidak stabil secara termodinamika. Stabilisasi sistem emulsi dapat dicapai dengan suatu zat pengemulsi emulsifying agent. Fasa mana yang akan menjadi fasa terdispersi dan fasa pendispersi yang akan terbentuk tergantung dari komposisinya dalam sistem. Fasa yang memiliki komposisi lebih banyak daripada yang lainnya akan menjadi fasa pendispersi Lund, Ada beberapa mekanisme kerja zat pengemulsi dalam pembentukan emulsi, yaitu menurunkan tegangan antara muka air dan minyak, pembentukan film antar muka yang menjadi halangan mekanik untuk mencegah koalesensi, pembentukan lapisan rangkap elektrik yang menjadi halangan elektrik pada waktu partikel berdekatan sehingga tidak akan bergabung, dan melapisi lapisan minyak dengan partikel mineral.

Zat pengemulsi yang lazim digunakan untuk pembentukan emulsi dibagi menjadi 4 kelompok yaitu elektrolit, surfaktan, koloid hidrofil, dan partikel padat halus. Pemilihan zat pengemulsi dalam suatu formulasi emulsi biasanya didasarkan pada pertimbangan stabilitas selama penyimpanan, jenis emulsi yang akan dihasilkan, dan harga zat pengemulsi tersebut dari segi ekonomisnya Agoes, Elektrolit Zat pengemulsi yang termasuk kelompok elektrolit merupakan zat pengemulsi yang kurang efektif.

Ion CNS- menimbulkan potensial negatif minyak pada antar muka. Surfaktan Senyawa ini memiliki mekanisme kerja menurunkan tegangan antar muka minyak dan air dengan membentuk lapisan film monomolekuler pada permukaan globul fase terdispersi.

Ada beberapa jenis surfaktan berdasarkan muatan ionnya, yaitu surfaktan anionik, surfaktan kationik, dan surfaktan non ionik. Surfaktan kationik merupakan surfaktan yang memiliki gugus hidrofil kation, contohnya Zehiran klorida dan setil trimetil amonium bromida.

Surfaktan non ionik merupakan surfaktan yang gugus hidrofilnya non ionik, contohnya Tween 80 dan Span Koloid Hidrofil Zat pengemulsi ini diadsorpsi pada antar muka minyak-air dan membentuk lapisan film multimolekuler di sekeliling globul terdispersi.

Beberapa contoh kelompok ini adalah protein, gom, amilum dan turunan dari zat sejenis dekstrin, metil selulosa, dan beberapa polimer sintetik seperti polivinil alkohol. Partikel Padat Halus Tidak Larut Zat pengemulsi ini akan teradsorpsi pada antar muka minyak-air dan akan membentuk lapisan film mono dan multimolekuler oleh adanya partikel halus yang teradsorpsi pada antar muka minyak-air.

Contohnya adalah bentonit dan veegum. Hal ini terjadi karena pada proses pembuatannya luas permukaan salah satu fase akan bertambah berlipat ganda, sedangkan seluruh sistem umumnya cenderung kembali kepada posisinya yang paling stabil, yaitu pada saat energi bebasnya paling rendah.

Oleh karena itu, globul-globul akan bergabung sampai akhirnya sistem memisah kembali. Berdasarkan fenomena tersebut dikenal beberapa peristiwa ketidakstabilan emulsi yaitu flokulasi, creaming, koalesen, dan demulsifikasi. Flokulasi dan creaming terjadi karena penggabungan kembali globul terdispersi yang disebabkan oleh adanya energi bebas permukaan. Flokulasi adalah suatu peristiwa terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak beraturan di dalam emulsi, sedangkan creaming merupakan suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di dalam emulsi.

Lapisan-lapisan tersebut terjadi karena pengaruh faktor gravitasi. Pada kedua peristiwa tersebut, emulsi masih dapat diperbaiki melalui pengocokan. Koalesen dan demulsifikasi terjadi bukan semata-mata karena energi bebas pemukaan, tetapi juga disebabkan oleh ketidaksempurnaan pelapisan globul.

Koalesen adalah 5 peristiwa terjadinya penggabungan globul-globul menjadi lebih besar, sedangkan demulsifikasi terjadi akibat proses lanjutan dari koalesen. Untuk kedua peristiwa ini, emulsi tidak dapat diperbaiki melalui pengocokan.

Ketidakstabilan emulsi yang lain adalah terjadinya inversi fasa. Inversi fasa terjadi bila emulsi yang semula merupakan emulsi minyak dalam air berubah menjadi emulsi air dalam minyak. Inversi fasa juga dapat terjadi karena penggunaan peralatan yang kotor atau prosedur pencampuran yang salah Lund, Evaluasi yang dilakukan untuk sediaan emulsi antara lain pemeriksaan organoleptik, penentuan tipe emulsi, ukuran globul, viskositas sediaan, dan uji stabilita dengan metode freeze-thaw.

Penentuan tipe emulsi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu uji kelarutan zat warna dan uji pengenceran Martin, Uji kelarutan zat warna dilakukan dengan menggunakan zat warna larut air seperti metilen biru atau biru brillian CFC yang diteteskan pada permukaan emulsi.

Hal yang terjadi adalah sebaliknya jika digunakan zat warna larut minyak Sudan III. Uji pengenceran Martin, dilakukan dengan cara mengencerkan emulsi dengan air. Stabilitas emulsi dapat dilihat dengan uji stabilita pada kondisi freeze and thaw. Emulsi harus tetap stabil tanpa adanya pemisahan pada suhu 45oC atau 50oC selama 60 hingga 90 hari, pada suhu 37oC selama 5 hingga 6 bulan, dan pada suhu kamar selama 12 hingga 18 bulan. Evaluasi ini dapat juga dilakukan dengan menyimpan sediaan pada dua suhu yang berbeda yaitu 4oC dan 40oC selama siklus.

Satu siklus terdiri dari penyimpanan selama 48 jam pada suhu 4oC dan 48 jam pada suhu 40oC. Mikroemulsi terdiri dari globul-globul yang berdiameter 10 — nm Prince, Globul seperti ini tidak dapat membiaskan cahaya dan tidak dapat dilihat secara kasat mata sehingga mikroemulsi merupakan sistem yang transparan Lund, Globul pada mikroemulsi dilapisi oleh film pada batas antarmuka yang berasal dari surfaktan dan alkohol sebagai kosurfaktan.

Evaluasi stabilita dengan metode freeze thaw yang dilakukan berulang kali dapat membedakan antara mikroemulsi dengan emulsi biasa. Mikroemulsi merupakan sistem yang stabil secara termodinamika sehingga bila dilakukan evaluasi stabilita dengan metode freeze and thaw sediaan akan tetap jernih dan tidak mengalami pemisahan fasa, sedangkan pada emulsi akan terjadi pemisahan fasa karena sistemnya yang tidak stabil secara termodinamika.

Mikroemulsi dan larutan miselar tidak terlihat putih susu, melainkan translusen atau transparan dan tidak mengalami pemisahan. Selain itu, mikroemulsi juga memberikan efek Tyndall. Metode pengukuran yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi mikroemulsi adalah dengan penghamburan cahaya light scattering , pengukuran berdasarkan perbedaan indeks bias optical birefringence , sedimentasi, sentrifugasi, rheology, konduktivitas, dan resonansi magnetik inti RMI.

Stabilitas mikroemulsi dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap terjadinya sedimentasi dan koalesen. Ada tiga cara untuk mengukur kecepatan sedimentasi yaitu dengan mengukur kecepatan sedimentasi akibat pengaruh gravitasi dengan menyimpan sediaan pada kondisi normal tidak diberi perlakuan apapun , cara sentrifugasi, atau dengan ultrasentrifugasi.

Jika sampel emulsi tidak menunjukkan pemisahan setelah disentrifugasi beberapa menit dengan kecepatan sentrifugasi G, dapat dikatakan bahwa telah terbentuk mikroemulsi.

Mikroemulsi tidak akan mengalami koalesen karena adanya 7 gerakan Brown dalam sistem yang mencegah globul-globul mikroemulsi bersatu menghasilkan creaming. Efektivitas gerakan Brown dapat diuji dengan cara melakukan ultrasentrifugasi pada , G.

Meskipun setelah proses sentrifugasi dihasilkan globul- globul yang mengendap, namun globul-globul ini tidak berkoalesen dan akan kembali ke kondisi awalnya jika didiamkan Lissant, Fase eksternal atau fase pendispersi umumnya merupakan bagian cairan dengan jumlah lebih banyak, sedangkan cairan yang kedua akan terdispersi dalam bentuk globul-globul halus. Dalam hal-hal tertentu mungkin dapat menjadi fase dalam atau sebaliknya. Fase internal atau fase terdispersi terdiri dari globul-globul cairan yang terdispersi dalam fase luar.

Fase interfasial terdiri dari surfaktan primer, terkadang dibantu dengan surfaktan sekunder dapat disebut sebagai kosurfaktan. Peranan utama komponen interfasial ini adalah sebagai penstabil mikroemulsi.

Sistem mikroemulsi umumnya lebih sulit untuk diformulasi dibandingkan dengan emulsi biasa, karena pembentukan sistem ini merupakan proses yang sangat spesifik yang melibatkan interaksi spontan antara molekul-molekul penyusunnya. Struktur asosiasi yang dihasilkan dari komponen-komponen ini pada suhu tertentu tergantung tidak hanya dari struktur kimia komponen penyusun namun juga dari konsentrasi yang digunakan.

Tahap yang paling menentukan dalam pembuatan mikroemulsi adalah pemilihan surfaktan dan kosurfaktan yang sesuai dengan fase minyak yang digunakan. Surfaktan yang dipilih harus mampu menurunkan tegangan antarmuka kedua fase sampai nilai yang sangat rendah, sehingga memudahkan proses dispersi pada pembuatan mikroemulsi dan dapat membuat lapisan film tipis yang akan melapisi globul-globul yang terbentuk.

Oleh sebab itu, dapat dilakukan penambahan kosurfaktan yang membantu menurunkan nilai tegangan antarmuka fase minyak dan fase air sehingga menjadi lebih rendah.

Salah satu teori yang menjelaskan mekanisme pembentukan mikroemulsi adalah teori film campuran mixed- film , yang menyatakan bahwa mikroemulsi dapat terbentuk karena adanya pembentukan lapisan film campuran pada daerah antar muka dan tegangan antar muka yang dihasilkan sangat rendah. Namun ada juga teori yang menyatakan bahwa sistem mikroemulsi adalah sistem yang secara alami merupakan sistem fase tunggal teori solubilisasi. Namun tidak semua teori tersebut dapat menjelaskan secara keseluruhan aspek struktur dan stabilitas mikroemulsi yang terbentuk Swarbrick, Teori film campuran mengatakan bahwa pembentukan spontan globul mikroemulsi terjadi karena pembentukan film kompleks pada antarmuka air-minyak oleh surfaktan dan kosurfaktan.

Hal ini menyebabkan penurunan tegangan antarmuka air-minyak hingga nilai paling rendah dari nol hingga negatif. Energi yang dihasilkan karena pemanasan dan pengadukan terhadap sistem akan meningkatkan luas permukaan globul sehingga ukuran globul dapat semakin diperkecil.

Nilai tegangan antar muka yang negatif dihasilkan karena adanya pengadukan, namun fenomena ini hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Setelah kesetimbangan tercapai, nilai tegangan antar muka akan menjadi nol atau memiliki nilai positif yang sangat kecil.

Mikroemulsi memiliki kemampuan untuk melarutkan lebih tinggi dibandingkan dengan solubilisasi miselar. Stabilitas termodinamika mikroemulsi lebih stabil bila dibandingkan dengan emulsi dan suspensi, karena mikroemulsi dapat dibuat dengan menggunakan input energi yang lebih kecil seperti pemanasan atau pengadukan namun memiliki usia simpan shelf life yang panjang.

Selain itu, sediaan dalam bentuk mikroemulsi umumnya lebih disukai karena sifatnya yang transparan sehingga lebih menarik minat dari konsumen Swarbrick, Beberapa sediaan mikroemulsi yang sudah ada di pasaran yaitu mikroemulsi Carnauba- Wax, minyak pelumas, parfum, cairan pembersih, formula antiseptik, kosmetik dan toiletries, dan sediaan farmasi.

Kulit merupakan salah satu organ terbesar tubuh yang berkaitan dengan luas permukaan tubuh. Pada orang dewasa, luas permukaan kulitnya kurang lebih 2 m2 dan menerima sekitar sepertiga peredaran darah dalam tubuh. Lapisan yang terluar adalah lapisan epidermis, yaitu lapisan tipis yang tersusun dari sel-sel epitelium. Epidermis dihubungkan ke bagian yang lebih dalam dan lebih tebal, yaitu jaringan penghubung yang disebut dermis.

Di bawah 10 dermis adalah lapisan subkutan yang disebut hipodermis yang terdiri dari jaringan areolar dan jaringan adiposa Martini, Lapisan epidermis merupakan lapisan epitel terluar yang terdiri dari 5 lapisan dan berfungsi sebagai pelindung terhadap pengaruh luar. Urutan lapisan tersebut dari dalam ke luar adalah stratum basal, stratum spinosum, stratum granulosum, stratum lusidum, dan stratum korneum.

Sel pada lapisan ini mampu membelah dan bermultiplikasi untuk memperbaharui lapisan epidermis secara berkesinambungan. Ketika sel-sel ini bermultiplikasi, sel-sel ini akan terdorong ke permukaan dan menjadi bagian dari lapisan selanjutnya. Pada lapisan ini terdapat pigmen melanin yang berperan dalam memberikan warna pada kulit dan sel-sel Merkel yang peka terhadap sentuhan.

Selain itu, lapisan ini juga membentuk jalinan-jalinan epidermal dengan pola tertentu yang kita kenal sebagai sidik jari Martini, Stratum spinosum merupakan lapisan epidermis yang terdiri dari sel polihedral yang tersusun berdekatan satu sama lain. Di antara sel tersebut terdapat jembatan antar sel yang disebut desmosom yang dapat pecah sehingga melanosit dan leukosit dapat bermigrasi.

Permukaan sel ini mengandung penonjolan yang berbentuk seperti duri. Stratum granulosum merupakan tempat terjadinya aktivitas biokimia dan perubahan morfologi sel, sehingga pada zona ini terdapat campuran sel yang hidup dengan sel keratin yang mati. Lapisan ini mengandung deret sel-sel yang pipih.

LES REGISTRES LITTRAIRES PDF

Jurnal Doc : jurnal penelitian tentang formulasi sediaan emulsi

Sistem ini dibuat stabil dengan bantuan suatu zat pengemulsi atau emulgator Martin, Pada emulsi farmasetik, fasa yang digunakan biasanya air dan fasa yang lainnya adalah minyak, lemak, atau zat-zat seperti lilin Lund, Pembuatan emulsi ganda ini dapat dilakukan dengan tujuan untuk memperpanjang kerja obat, untuk makanan, dan untuk kosmetik. Emulsi memiliki viskositas yang bervariasi dari cairan hingga semi solida. Secara umum, istilah emulsi lebih dikenal sebagai sediaan cair yang ditujukan untuk pemberian oral. Emulsi yang ditujukan untuk penggunaan eksternal biasanya lebih dikenal dengan nama krim, losion, atau obat gosok. Hal ini disebabkan karena gaya 2 3 kohesi antara molekul-molekul dari tiap cairan yang memisah lebih besar daripada gaya adhesi antara kedua cairan Martin,

ACUVUE REBATE 2012 PDF

.

Related Articles